Rabu, 31 Mei 2017

Peranan Teknologi Informasi Jurusan Ushuluddin

Peranan Teknologi  Informasi Jurusan Ushuluddin

Oleh: Akhmad Ma'sum Rosyadi



            Di era Teknologi informasi yang semakin canggih, kita dapat memanfaatkan teknologi sebagai sarana belajar untuk menambah wawasan ilmu. Ada banyak metode dan fasilitas belajar yang tersebar dalam internet semua bisa diakses dengan gratis dan mudah, di antaranya kita bisa mengakses maktabah syamilah dari aplikasi syamilah  ketika kita membutuhkan kitab yang kita inginkan kita dapat mengupdatenya dari internet. Keberadaan teknologi informasi telah memungkinkan siapa saja untuk dapat mempelajari berbagai ilmu melalui metode metode yang di inginkan bahkan juga bisa mengakses dengan mudah di internet.[1] Ketika kesulitan untuk menerjemahkan kitab-kitab yang ada di maktabah syamilah kita bisa belajar bahasa Arab melalui beberapa website yang menyediakan pembelajaran bahasa arab, sehingga kita tidak perlu kesulitan belajar.
Informasi pasti sangat berperan dalam menyampaikan sesuatu baik itu berupa berita,data,maupun ilmu, informasi dapat di olah seseorang ketika seseorang tersebut menerima stimulus atau rangsangan. Pengolahan informasi sangat penting untuk dipahami oleh seorang perancang media,agar pesan sebagai stimulus yang hendak disampaikan oleh sumber pesan dapat di pahami dan diinterpretasikan atau di tafsirkan sama oleh penerima pesan. Kemampuan seseorang dalam mengolah informasi dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya adalah sensasi,persepsi,memori dan berpikir.[2]
a.     Sensasi adalah pengalaman dasar manusia dalam menangkap segala informasi sensasi erat hubungannya dengan panca indra, tanpa panca indra kita sulit untuk mendapatkan informasi, jikalau adakalanya seorang yang mau menafsirkan Al-Qur’an akan,  dia sudah memenuhi syarat sebagai mufassir akan tetapi dia ada gangguan yaitu buta, pasti akan lebih sulit untuk menafsirkan Ayat-ayat Al-Qur’an.

b.    Presepsi adalah proses pemberian makna terhadap sensasi yang di terima. Dengan demikian sensasi adalah bagian dari presepsi. Misalnya ada seorang dosen menjelaskan kepada mahasiswa bahwa Al-Qur’an di turunkan pertamakali di turunkan kepada Nabi Muhammad di gua hira, pasti mahasiswa akan memperesepsikan seseorang yang sedang berada di gua sendirian lalu mendapatkan wahyu dari malaikat Jibril.

c.     Memori adalah penyimpanan, dalam hal ini memori berguna untuk merekam informasi yang telah di dapatkan dan juga yang sudah di kembangkan.
Kemampuan seseorang untuk memanfaatkan teknologi informasi pasti berbeda-beda, seiring dengan kemajuan di bidang teknologi, perkembangan teknologi informasi dan komunikasi saat ini berjalan semakin cepat. Sekarang ini hampiri seluruh aspek kehidupan,tidak terlepas dari teknologi dan informasi komunikasi.[3]
Teknologi informasi adalah suatu teknologi yang di gunakan untuk mengolah data,termasuk memproses,mendapatkanmenyusun,menyimpan, memanipulasi data dalam berbagai cara untuk menghasilkan informasi yang berkualitas, yaitu informasi yang relevan,akurat dan tepat waktu, yang digunakan untuk keperluan pribadi, bisnis, dan pemerintahan merupakan informasi yang setrategis untuk mengambil keputusan, Teknologi ini menggunakan seperangkat komputer untuk mengelola data, sistem jaringan untuk menghubungkan satu komputer dengan komputer yang lainnya sesuai dengan kebutuhan, dan teknologi komunikasi digunakan agar data dapat disebarkan dan diakses secara global.[4]
Setiap mahasiswa pastinya sekarang sudah mempunyai smartphone yang canggih, dari smartphone tersebut ita dapat mengakses berbagai ilmu dan juga informasi yang di butuhkan, di antaranya untuk mahasiswa Ilmu Ak-Qur’an dan Tafsir kita bisa mengakses kitab-kitab tafsir dengan mudah dari smartpone tersebut dan memudahkan kita untuk belajar di mana saja tanpa perlu membawa kitab tafsir yang sangat besar kita bisa membuka smartphone untuk membuka kitab tersebut.





[1]Artikel: Pemanfaatan Teknologi Informasi,oleh:Ovide Decroly Wisnu Adhi, post 15 juli 2014(kipmi.or.id/pemanfaatan-teknologi-informasi.html)
[2]Prof.Dr.Wina Sanjaya,M.P,Media Komunikasi Pembelajaran (Jakarta:Kencana prenada media group, 2012) hlm.94-102
[3]Sutarman, Pengantar Teknologi Informasi (Jakarta: Bumi Aksara, 2012) hlm.21
[4]Kamrolah,S.Th.I, Jurnal: Implikasi pemanfaatan Teknologi Informasi Komunikasi Terhadap Prilaku Keagamaan Santri Di Pondok Pesantren Wahid Hasyim Yogyakarta, 6 November 2015


www.stainkudus.ac.id

Keberagaman JIhad dalam Agama Islam

Keragaman Jihad dalam Agama Islam

Oleh: Akhmad Ma`sum Rosyadi


Pendahuluan
Islam merupakan agama Rahmatal lil’alamin bagi seluruh umat manusia, ada banyak cara berjuang  dalam islam, dalam agama pasti ada aturan,perintah dan juga larangan, di antaranya berjihad merupakan hal yang di syariatkan dalam Islam.
 Secara etimologi, Jihad adalah kepayahan, kesulitan, atau mencurahkan segala daya dan upaya, yaitu mencurahkan segala daya dan upaya, yaitu mencurahkan segala upaya dan kemampuan untuk meraih suatu perkara yang berat lagi sulit.[1] Seiring dengan keadaan zaman banyak berbagai faham di tanah air, kata jihad sering di asumsikan sebagai tindak kekerasan atau peperangan melawan orang kafir, seperti terorisme, dan juga bom bunuh diri. Untuk meluruskan hal tersebut, kita perlu untuk memahami arti dan esensi jihad yang di jelaskan dalam al-Qur’an,hadist dan fatwa ulama’ salaf. Menurut Ar-Raghib Al-Ashbahany (W. 502 H) berkata “Jihad adalah bersungguh-sungguh dan mengerahkan seluruh kemampuan dalam melawan musuh dengan tangan,lisan, apa aja yang ia mampu.
وَجَاهِدُوا فِي اللَّهِ حَقَّ جِهَادِهِ ۚ 
“Dan berjihadlah kalian pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya.” (Al-Hajj: 78).
Kata jihad seringkali disalah pahami hal ini mungkin di sebabkan karena biasanay lazim di ucapkan pada saat perjuangan fisik sehingga diidentikkan dengan perlawanan bersenjata.[2] Salah satu warisan ideologi yang mendapat tekanan adalah pelemahan nilai-nilai dan etika jihad dalam memperjuangkan hak-hak umat, maupun jihat memelihara agama. Konsep jihad yang begitu indah sebagai sepirit dalam menjalankan kehidupan telah disalahpahami dan di seleewengkan maknanya menjadi sebatas makna “kekerasan” secara fisik terhadap siapa saja yang melawan agama tuhan. Oleh karena itu pengetahuan tentang konsep jihad ini sangat penting guna membangunkan kembali jati diri umat Islam  yang makin lama makin melemah.
Jihad fi sabilillah, dalam syariat islam, tidak hanya bermakna memerangi orang-orang kafir saja, tetapi jihad, menurut kacamata syari’at umum, meliputi beberapa perkara:[3]
1.      Jihadun Nafs ( Jihad dalam memperbaiki diri)
2.      Jihadusy Syaithan ( Jihad melawan syaithan)
3.      Jihadul Kuffar wal Munafiqin ( Jihad melawan orang-orang kafir dan kaum munafikin)
4.      Jihad arbabuzh zhalmi wal bida’ wal munkarat (Jihad menghadapi  orang zhalim,ahli bid’ah, dan pelaku kemungkaran).
            Islam adalah agama Allah yang smpurna dan penuh dengan petunjuk. Tak satupun agama yang di ridlai oleh-Nya selain Islam. Kemuliaan, keindahan, keagungan, dan segala sifat yang terpuji telah menjadi cahaya Islam yang tidak akan sirna hingga hari kiamat.[4] Perlu di ingat pula, bahwa junjungan kita yang mulia, Rasulallah SAW adalah sosok yang berada pada tingkatan tertinggi dalam jihad fi sabilillah, yang beliau telah berjihad di jalan-Nya dengan sebenar- benar jihad, telah melaksanakan seluruh bentuk jihad yang ada, dan mewaqafkan seluruh detik-detik kehidupannya untuk berjihad, baik dengan hati,lisan maupun dengan tangannya. Oleh karena itu beliaulah yang memiliki derajat tertinggi serta nilai dan kedudukan termulia di sisi Allah.
Secara umum hukum dari Jihad melawan orang kafir adalah fardhu kifayah
وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً ۚ فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ
Artinya:  “Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya” (Q.S Attaubah: 122)
Namun Allah juga memerintahkan sebagian untuk memperdalam pengetahuannya tentang agama untuk memberi peringatan kepada kaum yang lalai, artinya Allah memerintahkan untuk mendakwahkan ilmu agama kepada kaum yang masih minim pengetahuannya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata “Jihad kadang dengan hati, seperti berniat dengan bersungguh-sungguh untuk melakukannya, dengan berdakwah kepada Islam dan syari’atnya, dengan menegakkan hujjah (argumen) terhadap penganut kebatilan,dengan ideologi dan setrategi yang berguna bagi kaum muslimin, atau berperang dengan diri sendiri.[5]
Konsep lain tentang Jihad yang di gandengkan dengan dakwah, yang makna bahasanya adalah Mengajak atau Menyeru kepada manusia agar melaksanakan ajaran islam.[6]

Hasil Penelitian
Saya mencoba bertanya mengenai makna Jihad kepada beberapa narasumber di daerah saya dan sekitarnya, yaitu tentang makna jihad menurut mereka,apakah memperbaiki diri sendiri termasuk jihad?  apakah berdakwah  juga termasuk jihad?
Bapak Abdur Rosyid  merupakan tokoh masyarakat di kampung saya, beliau selaku ta’mir musholla Miftahul Ulum Lebak,Pakis Aji Jepara. “Menurut beliau Jihad adalah berjuang, berjuang bukan hanya dalam medan perang, di antaranya berjuang menegakkan ajaran islam, berjuang dengan ilmu yang di milikinya, berjuang untuk keluarga, berjuang dalam berbuat kebaikan”.
Ust.Musyafak beliaau merupakan ustadz di Pon-pes Darutta’lim Bangsri Jepara. “Menurut beliau Jihad merupakan berusaha dan berjuang di jalan Allah, berjihad dengan ilmu yang di miliki, jihad melawan nafsu dan jihad berusaha memperbaiki diri”.
Ust.Nur Hidayatullah beliau merupakan murid dari Al-Habib Anis bin Husein Al-At-thas. “Menurut beliau Jihad merupakan berjuang dengan semampunya  di jalan Allah menegakkan ajaran Islam, menghadiri majlis ta’lim berniat tholabul ilmi menambah ilmu-ilmu untuk memperbaiki diri, menjalankan kewajiban dan menjalankan sunnah-sunnah Nabi Muhammad SAW dengan tujuan untuk memakmurkan agama islam, berdakwah juga termasuk berjihad, mengingatkan dan juga mengajak berbuat baik”.
Menurut Abah Muhtar Baisony beliau merupakan pengasuh pn-pes “Bismillahirrahmanirrahim” Tahunan Jepara.
Menurut beliau Bersholawat dengan seni Hadroh juga termasuk sarana berjihad berjihad, karena membaca maulid dan menyerukan sholawat  di imbangi dengan syair-syair yang tujuannya untuk mengajak masyarakat,mengingatkan dan mensyiarkan ajaran islam.

Analisis
Jihad memerangi musuh hanyalah salah satu dari sekian banyak sarana dan dakwah untuk menegakkan ajaran islam, yang di maksut dengan berperang di jalan Allah yakni bukanlah berperang menumpah darah orang-orang kafir dan mengambil harta-hartanya, melainkan supaya agama semata milik allah sehingga tampaklah Agama Allah. Dan tersingkirlah segala hal yang menentang ajaran allah berupa kesyirikan dan selainnya. Bukan hanya berperang saja yang merupakan jihad namun menegakkan ajaran islam, memperbaiki diri melawan hawa nafsu, menjalankan sunnah-sunnah Nabi, berjuang dengan ilmunya yang di maksud adalah berdakwah, juga menyampaikan ilmu yang dimiliki bertujuan untuk memberikan manfaat kepada orang lain,
Ada sebuah hadis yang di terangkan dalam hadits Fudhalah bin Ubaid bahwa Rasulallah SAW bersabda:
المجاهد من جاهد نفسه في طاعة الله
“seorang mujahid adalah orang ayng berjihad memperbaiki dirinya dalam ketaatan kepada Allah.”
Di antaranya jihad memperbaiki diri dengan mempelajari ilmu syari’at: Al-Qur’an dan As-Sunnah, sesuai dengan pemahaman para ulama’ salaf. Hal ini karena Allah memerintahkan untuk mempelajari Agama dan menyiapkan pahala yang sangat besar bagi par penuntut ilmu dan orang-orang yang berilmu.[7] Untuk orang yang mengamalkan ilmu yang telah di pelajarinya maka Allah akan menambah ilmu kepadanya yang ia tidak ketahui sebagaimana firman Allah SWT :
وَالَّذِينَ اهْتَدَوْا زَادَهُمْ هُدًى وَآتَاهُمْ تَقْوَاهُمْ
Artinya: Dan orang-orang yang mau menerima petunjuk, Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan balasan ketakwaannya. (Muhammad:17)

Berdakwah juga termasuk jihad,dakwah yaitu mengajak atau menyeru kepada manusia untuk selalu melaksanakan yang makruf dan meninggalkan kemungkaran.[8] Rasulallah SAW merupakan seorang sosok yang berada pada tingkatan tertinggi dalam jihad fi sabilillah, yang beliau telah berjihad di jalan-Nya dengan sebenar- benar jihad, telah melaksanakan seluruh bentuk jihad yang ada, dan mewaqafkan seluruh detik-detik kehidupannya untuk berjihad, baik berdakwah dengan hati,lisan maupun dengan tangannya.
Kesimpulan
Dari beberapa pemaparan tentang konsep jihad dapat di simpulkan bahwa jihad bukan hanya berperang di medan peperangan dan tidak harus bertumpah darah dengan para musuh, jihad yang di anjurkan berperang adalah ketika kondisi tidak memungkinkan maka terpaksa harus melakukan peperangan.
Jihad dapat di maknai yaitu memperbaiki diri dan juga memerangi hawa nafsu,berjuang untuk agama dan berjuang dalam kebaikan,berjuang dengan ilmu yang di milikinya dengan dakwah menyerukan agama islam bertujuan untuk membumikan perintah-perintah dan sunnah-sunnah ajaran islam juga termasuk jihad.









Daftar Pustaka
M.Sanusi, Dzulqarnain, Antara Jihad dan Terorisme,Makassar,Pustaka As-sunnah, 2011.
Shihab, M.Quraish,Tafsir Al-Misbah,Jakarta:lentera Hati,2001.
Aripudin, Dr.Acep, Sosiologi Dakwah, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya,2013.




[1] Dzulqarnain M.Sanusi, Antara Jihad dan Terorisme,Makassar,Pustaka As-sunnah, 2011, hlm.53
[2] M.Quraish shihab,Tafsir Al-Misbah,Jakarta:lentera Hati,2001 hlm.680
[3] Dzulqarnain M.Sanusi, Antara Jihad dan Terorisme,Makassar,Pustaka As-sunnah, 2011, hlm.65
[4] Ibid. hlm 3
[5] Ibid.hlm.54
[6] Acep Aripudin, Sosiologi Dakwah, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya,2013,hlm.64
[7] Dzulqarnain M.Sanusi, Antara Jihad dan Terorisme,Makassar,Pustaka As-sunnah, 2011, hlm..66
[8] Acep Aripudin, Sosiologi Dakwah, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya,2013,hlm.64




www.stainkudus.ac.id

Minggu, 28 Mei 2017

Penyakit Hati Sombong

Penyakit Hati Sombong
Oleh : Akhmad Ma'sum Rosyadi




Pendahuluan
Diantara sifat-sifat tercela yang telah dicela oleh Allah dan
RasulNya ialah sifat sombong.
Sombong adalah menganggahp diri sendiri lebih tinggi dan hebat dan merendahkan orang lain. kesombongan biasanya terjadi misalnya dalam lingkungan masyarakat,organissi,keluarga,sekolah,kampus dan di manapun juga. Orang selalu sombong karena sudah terbiasa membanggakan diri sendiri dan merendahkan orang lain, contoh seorang menyombongkan keahliannya dan kemampuannya dalam suatu organisasi.
 Orang sombong biasanya senang mendapat pujian,ingin berada di atas,tidak mau di nasehati, menganggap dia paling bagus sendiri. Padahal sikap seperti itu tidak di benarkan dalam pergaulan apalagi dalam ajaran islam di larang, Allah sangat membenci orang yang berlaku sombong, siapapun orang yang melakukan itu maka Allah akan menempatkan di tempat yang paling hina, yaitu neraka jahannam.  Jika penyakit ini tidak di basmi maka akan akan banyak manusia yang hina di hadapan Allah, banyak manusia tak mau di nasehati dan meremehkan orang lain. Ini akan menimbulkan kemrosotan akhlak sosial yang di miliki manusia yang tidak mau menghargai orang lain. Jika kesombongan terobati semoga kita akan menjadikan menjadi manusia yang mau menghargai orang lain dan tidak meremehkan orang lain, meskipun itu hanya suatu halyang kecil.
Dalam laporan observasi ini mari kita jabarkan tentang apa itu penyakit hati sombong, ciri-ciri orang sombong, lalu apa faktor penyebab sombong,bagaimana mengantisipasi sikap sombong, dan juga dampak dari penyakit hati sombong.





Pembahasan
A.    Pengertian Penyakit Hati Sombong
Penyakit hati Menurut Ibnu Taimiyah adalah suatu bentuk kerusakan yang menimpa hati, yang berakibat dengan tidak mampunya hati untuk melihat kebenaran. Akibatnya, orang yang terjangkit penyakit hati akan membenci kebenaran yangbermanfaat dan menyukai kebatilan yang membawa kepada kemudharatan. Oleh karena itu, kata maradh (sakit) kadangkadang diintepretasikan dengansyakh atau raib (keraguan). Hal ini seperti penafsiran Mujahid dan Qotadah tentang ayat alBaqarah ayat 2 : “Dalam hati mereka ada penyakit”. Penyakit dalam ayat ini dipahami sebagai keraguan.[1] Penyakit hati menurut Ibnu Taimiyah adalah penyakit yang ada di dalam hati, seperti kemarahan, keraguan dan kebodohan dan kezaliman. Orang yang ragu dan bimbang tentang sesuatu akan merasakan sakit hatinya sampai dia mendapatkan kejelasan dan keyakinan.
Sombong adalah menganggap diri sendiri lebih tinggi dan hebat dan merendahkan orang lain. Sombong menurut al-Ghazali adalah menganggungkan dirinya sendiri dan memandang dirinya lebih baik dari pada orang lain.[2] Sedangkan menurut Ibnu Abbas sombong adalah perasaan unggul atas orang lain, apabila ini di ungkapkan dalam kata-kata atau sebuah perbuatan tingkah laku maka di sebut takabur atau kesombongan yang merupakan lahiriyah dari perasaan lebih daripada orang lain.[3]
Sesungguhnya Allah sangat membenci orang yang sombong sebagaimana firman Allah dalam Surat Luqman ayat 18:
ولَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

Artinya: Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. (QS.Luqman:18)

B.     Hasil Wawancara
Bapak K.Abdur Rosyid selaku tokoh agama di daerah saya, menurut beliau:
Sombong adalah sifat manusia yang membanggakan diri sendiri dan menganggap dirinya paling “waww...” dari yang lainnya. Sombong merupakan sifat dari sebagian orang yang tidak  bisa di pungkiri, karena sombong merupakan sifat alami dari diri manusia itu sendiri.
Ustadz.Nur Hidayatullah murid dari Habibana Anis bin Husein Al-Atthas menurutnya:
Sombong ialah sikap angkuh atau keras kepala (gleleng) yang di miliki manusia yang sulit untuk di kasih nasihat, menganggap dirinyalah yang paling benar dan sempurna sendiri.

C.     Ciri-ciri orang sombong
Berikut adalah beberapa ciri orang sombong:[4]
a.       Sombong di ungkapkan dengan sikap, seperti  melihat orang lain dengan penuh curiga, memalingkan muka,
b.      Orang sombong tidak suka sendirian, ia sangat senang jika diikuti orang lain agar yang mengikuti tadi tau yang dilakukannya,
c.       Orang sombong tidak suka bertemu dan silaturrahim dengan saudara sesama muslim dan orang lain,
d.      Orang sombong melarang orang miskin duduk berdekatan dengannya dalam satu majlis.
e.       Orang sombong biasanya tampak pada pakjaian an perhiasan yang di pakainya
D.    Faktor Penyebab Sombong dan solusinya
Sikap sombong dapat di sebabkan oleh beberapa faktor di antaranya:
1.      Orang yang sering membanggakan diri sendiri,
2.      Mempunyai ilmu dan amalan yang di milikinya,
3.      Dari bentuk tubuh termasuk kecantikan,ketampanan,nasab, kekuatan,
4.      Mempunyai keahlian yang belum bisa di lakukan orang lain,
5.      Mempunyai harta kekayaan yang banyak, dan lain sebagainya.
Ketahuilah bahwa sikap sombong adalah penyakit yang berbahaya, menurut Habib Ahmad Anis bin Husein Al-Atthas saat ceramah di majlis,cara agar terhindar dari sifat sombong ialah:
1.       Selalu berdo’a kepada Allah agar di jauhkan dari sifat sombong,
2.       selalu ingat kepada Allah dan sadar diri bahwa kita adalah manusia biasa, segala daya dan kekuatan hanya milik Allah tidak ada yang perlu di banggakan dari kita.
Menurut Imam Al-Ghazali mengobati penyakit sombong yang di dasarkan pada amal adalah bertindak atau berbuat dengan akhlak yang baik (rendah hati,santun,sederhana),[5]
E.     Dampak dari Sombong
Jika tidak di basmi maka akan mengakibatkan menurunnya kualitas  Akhlak manusia, tidak mau menghargai orang lain dan akan meras egois bahwa hana dialah yang paling benar sendiri. Orang sombong menjadi pengikut iblis seperti firman Allah :
وإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَىٰ وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ

Artinya: Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam," maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir. (QS.Al-Baqoroh: 34)












Penutup

Kesimpulan

            Sombong merupakan penyakit hati manusia yang di sebabkan oleh Orang yang sering membanggakan diri sendiri,Mempunyai ilmu dan amalan yang di milikinya,Dari bentuk tubuh termasuk kecantikan,ketampanan,nasab, kekuatan, Mempunyai keahlian yang belum bisa di lakukan orang lain,Mempunyai harta kekayaan yang banyak, dan lain sebagainya.
            Sombong merupakan sifat yang di benci oleh Allah dan harus di jauhi oleh orang islam karena banyak bahayanya.




Daftar Pustaka

Taimiyah,Ibnu,Mengenali Gerak-Gerik Kalbu,Bandung: Pustaka Hidayah,2001.
Al-ghazali,Imam, Ihya’ Ulumuddin:Menghidupkan Ilmu-Ilmu Agama,Bandung: Penerbit Marja,2011,jilid 2.




[1] Ibnu Taimiyah,Mengenali Gerak-Gerik Kalbu,Bandung: Pustaka Hidayah,2001,hlm. 149
[2] Ihya Ulumudin 3/345
[3]Imam Al-ghazali, Ihya’ Ulumuddin:Menghidupkan Ilmu-Ilmu Agama,Bandung: Penerbit Marja,2011,jilid 2,hlm.391.
[4] Ibid,hlm 398-400
[5] Ibid,hlm 404.


www.stainkudus.ac.id

Sabtu, 27 Mei 2017

Tafsir Ayat Kesehatan



Tafsir Ayat Kesehatan

Oleh: Akhmad Ma'sum Rosyadi



Pendahulan

Islam menetapkan tujuan pokok kehadirannya untuk memelihara agama, jiwa, akal, jasmani, harta, dan keturunan. Setidaknya tiga dari yang disebut di atas berkaitan dengan kesehatan. Tidak heran jika ditemukan bahwa Islam amat kaya dengan tuntunan kesehatan. Paling tidak ada dua istilah literatur keagamaan yangdigunakan untuk menunjuk tentang pentingnya kesehatan dalampandangan Islam.
Dalam literatur keagamaan, bahkan dalam hadis-hadis Nabi Saw. ditemukan sekian banyak doa, yang mengandung permohonan afiat, di samping permohonan memperoleh sehat. Dalam kamus bahasa Arab, kata afiat diartikan sebagai perlindungan Allah untuk hamba-Nya dari segala macam bencana dan tipu daya. Perlindungan itu tentunya tidak dapat diperoleh secara sempurna kecuali bagi mereka yang mengindahkan petunjuk-petunjuk-Nya. Maka kata afiat dapat diartikan sebagai berfungsinya anggota tubuh manusia sesuai dengan tujuan penciptaannya[1]
Rumusan Masalah
1.      Bagaimana kandungan Surat Al-Baqarah ayat 222 ?
2.      Bagaimana kandungan Surat Al-An’am Ayat145 ?

A.      Haidh Kesehatan  Wanita
Redaksi Ayat: Surat Al-Baqarah ayat 222:

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ وَلا تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّى يَطْهُرْنَ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

“Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: "Haidh adalah suatu kotoran". Oleh karena itu, jauhilah istri pada waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, campurilah mereka sesuai dengan (ketentuan) yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang yang menyucikan diri”(Al-Baqarah:222)

1.      Mufrodat
محيض   : tempat, atau waktu haid, atau haid itu sendiri.
يطهرن    : suci, berhenti dari haidnya
2.      Tafsir Ayat
Setelah turunnya ayat ini, Nabi SAW menyampaikan maksud jawban Ilahi ini dengan menyatakan kepada para penanya dan seluruh umat Islam “Lakukanlah segala sesuatu (yang selama ini dibenarkan) kecuali hubungan seks” (HR.Muslim). Haid merupakan gangguan, haid mengakibatkan gangguan terhadap fisik dan psikis wanita, juga terhadap pria. Secara fisik, keluarnya darah yang segar, mengakibatkan gangguan pada jasmani wanita. Rasa sakit sering kali melilit perutnya akibat rahim berkontraksi. Sisi lain, kedaangan tamu bulanan ini mengakibatkan nafsu seksual wanita sangat menurun, emosinya seringkali tidak terkontrol. Sel telur pun, dengan datangnya haid kelua serta belum ada gantinya sampai beberapa lama setelah wanita itu suci, sehingga pembuahan yang merupakan salah satu tujuan hubungan seks tidak mungkin akan erjadi pada asa haid. Oleh sebb itu- lanjut ayat ditas hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita,  dalam arti tidak bersetubuh, pada waktu mereka mengalami haid; atau pada tepat haid. Ini berarti bahwa boleh mendekati asal bukan tempat haid, Nabi mengizinkan bercumbu pada bagian atas bukan bagian bawah.
Penyebuta kata mahidh  sekaligus untuk menggambarkan bahwa darah yang keluar dari vagina wanita misalnya Istihadhah  tidak selau menimbulkan gangguan yang sama dengn yang dialami saat haid. Karena tu, jika wanita mengalami istihadhah  maka wanita itu tetap diwajibkan untuk sholat.
Kapan hubungan seks dapat dilakukan? Kapan saja, tetapi dengan syarat, Janganlah kamu mendekati mereka sebelum merka suci. Suci dengan cara mandi yaitu setelah berhnti haidnya. Ayat ini ditutup dengan firman-Nya: Sesungguhnya Allah menyukai orang orang yang taubat dan menyukai juga orang-orang yang bersungguh-sungguh menyucikan diri.  Brtaubat adalah menyucikan diri dari kotoran batin, sedangkan menyucikan diri dari kotoran lahir adalah mandi atau berwudlu. Demikian pula penyucian jasmani dan rohani digabung oleh penutup ayat ini, sekaligus memberi isyarat bahwa hubungan seks baru dapat dibenarkan jika haid telah berhenti dan isteri telah mandi.[2]

B.     Makanan dan Minuman Untuk Kesehatan

Redaksi ayat: Surat Al-An’am Ayat145
قُلْ لَا أَجِدُ فِي مَا أُوحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّمًا عَلَىٰ طَاعِمٍ يَطْعَمُهُ إِلَّا أَنْ يَكُونَ مَيْتَةً أَوْ دَمًا مَسْفُوحًا أَوْ لَحْمَ خِنْزِيرٍ فَإِنَّهُ رِجْسٌ أَوْ فِسْقًا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ ۚ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلَا عَادٍ فَإِنَّ رَبَّكَ غَفُورٌ رَحِيمٌ
 Katakanlah: "Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi -- karena sesungguhnya semua itu kotor -- atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah. Barangsiapa yang dalam keadaan terpaksa, sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka sesungguhnya Tuhanmu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang".

1.      Mufrodat
طعم       : yang dimaksud adalah makanan dan tidak mencakup minuman.
رجس     : rijs atau kotoran mengandung makna yang sangat luas, antara lain  kotor lahir maupun batin, dosa, pekerjaan yang tidak layak dilakukan dan yang mengarah kepada risiko siksa.
2.      Tafsir Ayat
Tiadalah aku peroleh sampai saat ini dalam apa, yakni wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu makanan yang diharamkan bagi orang yang memakannya, baik lelaki maupun peempuan, menyangkut apa yang kamu sebut diharamkan Allah dari binatang-binatang itu, kecuali kalau makanan itu bangkai, yakni berembus nyawanya tidak melalui penyembelihan yang dibenarkan syara’, atau darah yang sifatnya mengalir, bukan yang mmbeku, seperti hati dan limpa, atau daging babi, karena sesungguhnya ia, yakni babi atau semua yang disebut diatas adalah rijs, yakni kotor. Setelah menyebut yang haram karena zatnya, ayt ini melanjutkan bahwa diharamkan juga atau kefasikan, yakni perbuatan yang mengandung risiko keluar dari akidah yang benar, seperti memakan binatang yang disebut selain nama Allah ketika menyembelihnya, demikan juga mengingkari nikmat Allah dengan menyebut selain-Nya sambil enggan menyebut nama-Ny. Allah memberikan kelonggaran kepada manusia barangsiapa yang dalam keadaan terpaksa, yakni dalam kadan yang mengakibatkan kmatiannya,karena amat sangat lapar atau sebab lainnya, sehingga untuk menghindarinya tidak ada jalan lain kecuali harus memakan salah satu dari makanan haram itu,sedang dia tidak menginginkannya, yakni tidak memakannya, padahal ada makanan halal yang dapat dia makan, tidakpula memakanya memenuhi keinginan seleranya dan tidak pula melampui batas, yakni tidak memakannya dalam kadar melebihi kebutuhan menutup rasa lapar dan memlihara jiwanya, maka Allah akan mengampuninya karena sesungguhya Tuhanmu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
طعم  yang dimaksud adalah makanan dan tidak mencakup minuman, kata رجس rijs/kotoran mengandung makna yang sangat luas, antara lain  kotor lahir maupun batin, dosa, pekerjaan yang tidak layak dilakukan dan yang mengarah kepada risiko siksa. Ketika menjelaskan  tentang kata itu dalam QS. Al-Ma’idah (3), penulis mengemukakan kta mengandung juga arti  kebobrokan moral dan keburukan budi pekerti. Tidak dapat diragukan bahwa perasaan manusia dipengaruhi oleh kualitas makanan dan kuantitasnya. Nah. Jika demikian, makanan dan minuman memiliki engaruh yang besar bukan saja bagi jasmani manusia tetapi juga bagi perasaan jiwa manusia. Seungguhnya ia rijs menunjukkan kepadasemua makanan yang diharamkan itu atau hanya kepada babi.[3]
C.    Hubungan Penjelasan Ayat
Kesehatan, yang di ambil dari kata sehat dan Afiat. Keduanya dalam bahasa Indonesia, sering menjadi kata majemuk sehat afiat. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesra, kata "afiat" dipersamakan dengan "sehat". Afiat diartikan sehat dan kuat, sedangkan sehat (sendiri) antara lain diartikan sebagai keadaan baik segenap badan serta bagian-bagiannya (bebas dari sakit).Tentu pengertian kebahasaan ini berbeda dengan pengertian dalam tinjauan ilmu kesehatan, yang memperkenalkan istilah-istilah kesehatan fisik, kesehatan mental, dan kesehatan masyarakat. Walaupun Islam mengenal hal-hal tersebut, namun sejak dini perlu digarisbawahi satu hal pokok berkaitan dengan kesehatan, yaitu melalui pengertian yang dikandung oleh kata afiat. Istilah sehat dan afiat masing-masing digunakan untuk makna yang berbeda, kendati diakui tidak jarang hanya disebut salah satunya (secara berdiri sendiri), karena masing-masing kata tersebut dapat mewakili makna yang dikandung oleh kata yang tidak disebut. Pakar bahasa Al-Quran dapat memahami dari ungkapan sehat wal-afiat bahwa kata sehat berbeda dengan kata afiat, karena wawu yang berarti "dan" adalah kata penghubung yang sekaligus menunjukkan adanya perbedaan antara yang disebut pertama (sehat) dan yang disebut kedua (afiat).[4] Wawasan halaman 179
Atas dasar itu, dipahami adanya perbedaan makna di antara keduanya. Dalam literatur keagamaan, bahkan dalam hadis-hadis Nabi Saw. ditemukan sekian banyak doa, yang mengandung permohonan afiat, di samping permohonan memperoleh sehat. Dalam kamus bahasa Arab, kata afiat diartikan sebagai perlindungan Allah untuk hamba-Nya dari segala macam bencana dan tipu daya. Perlindungan itu tentunya tidak dapat diperoleh secara sempurna kecuali bagi mereka yang mengindahkan petunjuk-petunjuk-Nya. Maka kata afiat dapat diartikan sebagai berfungsinya anggota tubuh manusia sesuai dengan tujuan penciptaannya. Kalau sehat diartikan sebagai keadaan baik bagi segenap anggota badan, maka agaknya dapat dikatakan bahwa mata yang sehat adalah mata yang dapat melihat maupun membaca tanpa menggunakan kacamata. Tetapi, mata yang afiat adalah yang dapat melihat dan membaca objek-objek yang bermanfaat serta mengalihkan pandangan dari objek-objek yang terlarang, karena itulah fungsi yang diharapkan dari penciptaan mata.
Telah disinggung bahwa dalam tinjauan ilmu kesehatan dikenal berbagai jenis kesehatan, yang diakui pula oleh pakar-pakar Islam. Majelis Ulama Indonesia (MUI), misalnya, dalam Musyawarah Nasional Ulama tahun 1983 merumuskan kesehatan sebagai "ketahanan jasmaniah, ruhaniah, dan sosial yang dimiliki manusia, sebagai karunia Allah yang wajib disyukuri dengan mengamalkan (tuntunan-Nya), dan memelihara serta mengembangkannya." Memang banyak sekali tuntunan agama yang merujuk kepada ketiga jenis kesehatan itu. Dalam konteks kesehatan fisik, misalnya ditemukan sabda Nabi Muhammad Saw.: Sesungguhnya badanmu mempunyai hak atas dirimu. Demikian Nabi Saw. menegur beberapa sahabatnya yang bermaksud melampaui batas beribadah, sehingga kebutuhan jasmaniahnya terabaikan dan kesehatannya terganggu. Pembicaraan literatur keagamaan tentang kesehatan fisik, dimulai dengan meletakkan prinsip: Pencegahan lebih baik daripada pengobatan. Karena itu dalam konteks kesehatan ditemukan sekian banyak petunjuk Kitab Suci dan Sunah Nabi Saw. yang pada dasarnya mengarah pada upaya pencegahan. Salah satu sifat manusia yang secara tegas dicintai Allah adalah orang yang menjaga kebersihan. Kebersihan digandengkan dengan taubat dalam surat Al-Baqarah (2): 222: Sesungguhnya Allah senang kepada orang yang bertobat, dan senang kepada orang yang membersihkan diri. Tobat menghasilkan kesehatan mental, sedangkan kebersihan lahiriah menghasilkan kesehatan fisik.[5]
Begitu juga dengan makanan yang kita konsumsi juga mempengaruhi kesehatan jasmani rohani, juga akhlak manusia, makanan yang halal akan memunculkan ksehatn dan kejernihan hati dan memunculkan sifat yang baik.
Simpulan
            Ketika wanita sedang haid maka tidak boleh di kumpuli, karena haid merupakan gangguan, haid mengakibatkan gangguan terhadap fisik dan psikis wanita, juga terhadap pria. Secara fisik, keluarnya darah yang segar, mengakibatkan gangguan pada jasmani wanita. Rasa sakit sering kali melilit perutnya akibat rahim berkontraksi. Sisi lain, kedaangan tamu bulanan ini mengakibatkan nafsu seksual wanita sangat menurun, emosinya seringkali tidak terkontrol. Sel telur pun, dengan datangnya haid kelua serta belum ada gantinya sampai beberapa lama setelah wanita itu suci, sehingga pembuahan yang merupakan salah satu tujuan hubungan seks tidak mungkin akan erjadi pada asa haid. Oleh sebb itu- lanjut ayat ditas hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita,  dalam arti tidak bersetubuh, pada waktu mereka mengalami haid; atau pada tepat haid. Ini berarti bahwa boleh mendekati asal bukan tempat haid, Nabi mengizinkan bercumbu pada bagian atas bukan bagian bawah.
                        , sesuatu makanan yang diharamkan bagi orang yang memakannya, baik lelaki maupun peempuan, menyangkut apa yang kamu sebut diharamkan Allah dari binatang-binatang itu, kecuali kalau makanan itu bangkai, yakni berembus nyawanya tidak melalui penyembelihan yang dibenarkan syara’, atau darah yang sifatnya mengalir, bukan yang mmbeku, seperti hati dan limpa, atau daging babi, karena sesungguhnya ia, yakni babi atau semua yang disebut diatas adalah rijs, yakni kotor. haram karena zatnya, diharamkan juga atau kefasikan, yakni perbuatan yang mengandung risiko keluar dari akidah yang benar, seperti memakan binatang yang disebut selain nama Allah ketika menyembelihnya, demikan juga mengingkari nikmat Allah dengan menyebut selain-Nya sambil enggan menyebut nama-Ny. Allah memberikan kelonggaran kepada manusia barangsiapa yang dalam keadaan terpaksa, yakni dalam kadan yang mengakibatkan kmatiannya,karena amat sangat lapar atau sebab lainnya, sehingga untuk menghindarinya tidak ada jalan lain kecuali harus memakan salah satu dari makanan haram itu,sedang dia tidak menginginkannya, yakni tidak memakannya, padahal ada makanan halal yang dapat dia makan, tidakpula memakanya memenuhi keinginan seleranya dan tidak pula melampui batas, yakni tidak memakannya dalam kadar melebihi kebutuhan menutup rasa lapar dan memlihara jiwanya, maka Allah akan mengampuninya karena sesungguhya Tuhanmu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.




[1] M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an:Tafsir Maudhu’i atas pelbagai persoalan umat,E-book by.nazilhilmie@yahoo.com hlm 180
[2] M.Quraish Shihab, Tafsir Al-misbah:Pesan,kesan dan kesersian Al-Qur’an, Lentera Hati: Jakarta, 2002. Hlm 582-584.
[3] Ibid, hlm 705-709
[4] M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an:Tafsir Maudhu’i atas pelbagai persoalan umat,E-book by.nazilhilmie@yahoo.com hlm 179
[5] Ibid, hlm 82-83


www.stainkudus.ac.id
www.lowongankerjababysitter.com www.lowongankerjapembanturumahtangga.com www.lowonganperawatlansia.com www.lowonganperawatlansia.com www.yayasanperawatlansia.com www.penyalurpembanturumahtanggaku.com www.bajubatikmodernku.com www.bestdaytradingstrategyy.com www.paketpernikahanmurahjakarta.com www.paketweddingorganizerjakarta.com www.undanganpernikahanunikmurah.com